Sabtu, 31 Januari 2015

Cerpen-ku

Basket
by: AS

Bel istirahat memecah situasi menegangkan pagi itu, dengan cepat murid-murid mengumpulkan kertas ulangan mereka.
 “kau tidak ke kantin?” Tanya Farah, sahabatnya sejak kecil.
“lagi malas” jawab Adny tak acuh. Ia menatap keluar jendela. Farah duduk didepannya, membuka buku metematika.
“tumben kau rajin” ejek Adny
Alis Farah merapat, heran dengan Adny. “jangan bilang kau lupa?”
“apa?”
“ulangan matematika”
Adny mendengus kesal,“tadi aja gak bisa, apalagi ini.” Adny melirik Farah didepannya, ia lalu menopang kepala dengan tangan kirinya. Kalau sudah begini, pasti-
“kau ngapain aja sih?” introgasi dimulai
***
Hari-hari menyebalkan itu dimulai sejak sebulan sebelum pembukaan kejuaraan basket tingkat nasional, saat itu tim basket sekolah berambisi merebut piala kejuaraan dan sejak saat itu juga pelajaran kelas Adny mulai berantakan. Apalagi sekarang mereka berhasil lolos ke semi final, yang terpikir di kepala Adny hanya masuk final dan merebut juara 1.
“Adny!!!” bentakan Pak Tri siang itu sontak mengembalikan pikirannya dari lamunan, “20 kali keliling lapangan!”
“ta-tapi pak, saya tidak ngobrol” bela Adny
“memang tidak. Tapi kamu melamun” bentak Pak Tri lagi.
Adny menundukkan kepala,“tapi perjanjiannya tadi kan kalau ngobrol pak, dan saya juga tidak melamun”
Pak Tri menahan kesal,“baik!” kata Pak Tri akhirnya, “kerjakan soal itu”
Adny maju ke depan, ia yakin dapat mengerjakan soal itu dengan mudah. Tapi saat ia mulai mengerjakan soal, aduh! Apaan nih?? Mati aku.
Mata pak Tri berkilat-kilat marah, “50 putaran! Sekarang!” kali ini dengan menekankan pada kata ‘sekarang’
Reflex mulut Adny membuka lebar, saingan dengan matanya yang juga melotot. Beneran mati aku! Tanpa menunggu perintah lagi, Adny langsung melesat ke lapangan.
***
haduuh! Sangking aku cinta sama lapangan, setiap hari ditendang ke lapangan terus. Jadi hobi semua guru!, batin Adny, tapi kali ini lebih parah! Ngapain sih nyuruh jagain bendera?? kayak ada yang mau maling aja. Pake acara hormat segala pula. Ditambah lagi ini papan. Malu-maluin. Mending disuruh lari keliling lapangan, itung -itung latihan. Buang-buang waktu, omel Adny terus-terusan.  Keringatnya mengucur deras. ia lalu melihat ke atas, beberapa menit lagi matahari tepat di atas kepalanya.
“hei itu Adny kapten tim basket sekolah kita kan?” beberapa siswa yang tidak sengaja lewat mulai berbisik-bisik
“Adny anaknya Pak Dani?” timpal siswa lainnya
“tapi kenapa dia selalu disetrap ya?”
Salah satu siswa menatap sinis ke arah Adny,“palingan gak merhatiin saat guru mengajar atau dia gak ngerjain pr”
“ia, dengar-dengar sih, nilai-nilainya… menurun semua semester ini” anak lainnya mulai menimpali
“oh ya? Bukannya dia siswa terbaik waktu kelas 10”
“mungkin dia terlalu memenangkan basket”
“mana ada? Aku rasa itu Adny yang sebenarnya. Akhirnya keadilan ditegakkan di sekolah ini” ucap seorang siswa, sorot matanya penuh kebencian.
“maksudmu apa?”
“sudah jelaskan? Dia jadi siswa terbaik karena dia anak-”
Cukup! Teriak Adny dalam hati. Tidak sanggup lagi menahan kemarahannya yang sudah meluap-luap. Ia mengacak-acak rambutnya, berteriak frustasi.
Anak-anak yang membicarakannya tadi sudah menghilang entah kemana. “seenaknya mereka bicara begitu”
“sialaaaann!!!” teriaknya untuk yang kedua kalinya. Bersamaan dengan bel istirahat.
Anak-anak mulai berkeliaran di luar kelas. Adny belum juga beranjak dari tiang bendera, meski sudah berubah posisi. Ia duduk menunduk.
“ini…” Farah menyodorkan botol air minum
Adny menggeleng, “aku bisa tambah kena masalah”
“kalau mau minum sekarang” Farah bersikeras
“terima kasih”
“huh kau ini hobi banget dihukum”
Adny unjuk gigi, nyengir ‘mau gimana lagi?’
“yaah terserah kau saja” Farah pergi meninggalkan Adny.
Jam pelajaran terakhir, English by Mr. Fariz. Sepanjang hampir satu jam pelajaran berjalan mulus dan ‘normal’. Tapi sepertinya masalah selalu mengekor Adny. Sekeras apapun Adny mencoba, tak pernah berhasil.
“Adny!” Adny sedikit terkejut. Bukan apa-apa, hanya saja kali ini, sedikit lebih lembut. Mr. Fariz menghela nafas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya dalam bahasa Inggris, “I was very boring to punish you. It’s useless.
yeah, me too” gumam Adny, tapi cukup untuk membuat Mr. Fariz menaikkan alisnya.
You’re never change at all. What is your problem kid?” tidak ada yang berbicara, semuanya penasaran pada jawaban Adny.                                                                                                                                                                                  
please, come to the teacher’s office, the 2nd floor” kata Mr. Fariz akhirnya, tepat saat bel pulang berbunyi.
Adny berjalan menyusuri koridor-koridor kelas, hingga sampai di kantor guru, ia lalu menaiki satu-satunya tangga yang ada disana. Sejenak rasa takut menyelimuti hatinya, ayahnya tidak akan main-main kali ini. Dengan ragu ia mengetuk pintu.
 “masuk” kata Pak Dani, kepala SMAN 1 Metro. Beliau mempersilahkan Adny duduk.
“bagaimana persiapan untuk final nanti Adny?” Pak Dani memulai pembicaraan.
“lancar pak, sekarang latihannya setiap hari sepulang sekolah dan fullI di hari minggu” jawab Adny bersemangat. Dia lalu menjelaskan rincian kegiatan tim basket selama seminggu. Hal yang dikhawatirkannya sudah pergi jauh-jauh.
Pak Dani mengengguk-anggukkan kepalanya,“lalu bagaimana persiapanmu untuk ujian semester ini Adny?”
“itu…”
“aah, bapak yakin kau sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari,” sela Pak Dani. “dua semester kemarin kau memegang peringkat 1 bukan?” Pak Dani tersenyum. “bapak yakin kau akan peringkat satu lagi kali ini”
Adny menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Pak Dani
“tapi bapak rasa kau kesulitan sekarang-”
“bapak sudah tahu?” kata Adny perlahan
“tentu saja Adny, saya sudah bosan mendengar laporan dari guru-gurumu! Melamun, tidur saat jam pelajaran, tidak buat pr, lebih lagi nilai-nilaimu sekarang jelek!!!” Adny makin menenggelamkan kepala.
“dengar Adny. Jika kau tidak berubah jangan harap bisa memegang bola basket lagi!” kata Pak Dani penuh ketegasan disetiap kalimatnya. Adny tidak bisa berkutik lagi, ia pasrah.
***
Suasana malam yang sangat ramai sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang-orang di kota itu. Di atas sana langit berwarna hitam pekat, hanya sedikit yang menyadari cahaya bulat sempurna menggantung disana, persis seperti bola di tangan Adny.
Tidak bosan-bosan ia memainkannya, memantulkannya sesuka hati. Sesekali beradu dengan plafon, juga dinding, dan lemari, hingga akhirnya meluncur tepat ke arah meja belajar, menghancurkan menara-menara buku dengan sekali lemparan.
Adny segera mengangkat buku-buku yang berjatuhan. Lembaran-lembaran kertas juga ikut berserakan. Ia mengumpulkannya menjadi satu lalu menjepitnya dengan penjepit kertas. Beberapa diantaranya adalah kertas ulangan hariannya minggu kemarin, jelek!!! .
Adny segera menyingkirkan kertas lalu melihat memo yang bersebelahan dengan kalender kecil diatas meja belajar. Ia memikirkan sesuatu. “baiklah!!” katanya penuh semangat, lalu berbaring dan terlelap dalam mimpinya.
***
Seusai jam pelajaran terakhir, Adny berjalan-jalan mengitari lorong. Ia sibuk merencanakan sesuatu. tapi… kalau cuma seperti ini mana bisa, Mengikuti kemana kaki melangkah, tidak sadar ia berada di depan gedung perpustakaan. Seseorang seperti berbisik ditelinganya, mendorongnya untuk masuk.
Sasana sunyi itu sudah lama tidak dirasakannya, rak-rak yang menjulang tinggi penuh dengan buku-buku seakan memanggil-manggil Adny. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong buku hingga ia melihat sesosok yang dikenalnya duduk memunggunginya bersama tumpukan-tumpukan buku diatas meja.
“ooh kau sering disini rupanya”
Farah menengok kebelakang lalu kembali menulis, “kenapa?”
“tidak” Adny duduk disebelahnya. hening beberapa saat.
“Far ajarin aku ya?”
“belajar bareng.” Kata Farah akhirnya.
Berubah tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi untuk tujuan yang dirasa sedikit mustahil. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Adny. Setiap hari sebelum berlatih basket ia belajar bersama Farah dan teman-temannya di perpustakaan. Bahkan saat istirahat latihan disempatkan untuk belajar.
 “kau harus pandai membagi waktu” kata-kata Farah terngiang dikepalanya. Ia sudahi belajarnya malam itu. lagi pula besok adalah ujian semester pertama di kelas XI, dia akan butuh banyak istirahat sekarang.
5 menit, 10 menit, tidak juga bisa memejamkan mata. Adny terlalu gelisah memikirkan ujian besok dan konsekuensi jika dia gagal.
“pasti bisa” ia berusaha menghibur diri. “ia pasti bisa, selama 2 minggu ini ibaratnya aku tidak lagi berjalan, aku sudah berlari! Jadi, hasilnya pasti bagus.”
Adny menarik selimutnya. Kantuk mulai menguasai, “berjuanglah!” sayup-sayup sebuah suara berbisik bersama angin. Suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia pun terlelap.
  Minggu-minggu berikutnya berjalan lancar.  Baik ujian maupun latihan dijalaninya dengan baik. Hingga akhirnya sampailah pada hari penentuan latihan selama ini. Pagi-pagi sekali Adny  dan teman-temannya sudah berkumpul disekolah. Sebelum berangkat mereka diberi pengarahan dan dorongan semangat oleh kepala sekolah.
Minggu-minggu berikutnya berjalan lancar.  Baik ujian maupun latihan dijalaninya dengan baik. Hingga akhirnya sampailah pada hari penentuan latihan selama ini. Pagi-pagi sekali Adny  dan teman-temannya sudah berkumpul disekolah. Sebelum berangkat mereka diberi pengarahan dan dorongan semangat oleh kepala sekolah.
permainan dimulai tepat jam 10. Quarter pertama berjalan lancar dengan tim Adny memimpin  8-5, namun quarter berikutnya tim lawan mulai mengejar dan berhasil menyamakan kedudukan. Hingga sampailah pada quarter terakhir, skor kedua tim masih saling kejar-mengejar. Belum dapat diprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Satu tembakan mematikan lahir di menit terakhir. Skor penentuan. Setiap pasang mata terpaku pada arah bola. Sunyi beberapa saat. Tubuh Adny bergetar hebat menyaksikan bola melaju dengan kencang, rasanya tidak mungkin ada yang bisa menghentikan.
Suara peluit terdengar jelas. Tidak ada yang bersuara, sorak-sorai kemenangan pun tidak. Semuanya masih terbengong-bengong menyaksikan kejadian yang begitu cepat itu, bola terpental keluar lapangan. Tepat saat peluit dibunyikan.
Pada quarter tambahan keadaan berbalik, tim lawan unggul 3 point. Tim Adny mulai kelelahan, begitu juga dengan Adny, dengan kondisi kaki cedera ia semakin sulit melakukan penyerangan. Kembali tiba di menit-menit terakhir, teman-temannya dijaga ketat. Waktu terus berjalan. Tidak ada pilihan lain, dilupakannya rasa sakit pada kakinya, Adny melompat untuk melakukan tembakan. Seorang lawan yang bertubuh besar berhasil menghadangnya. Adny terlempar. Tepat sebelum menyentuh lapangan, Adny melihat pertahanan lawan mulai berkurang. Disudut matanya, Hasan berlari tanpa penjagaan. Tidak membuang kesempatan, Adny mengoper bola. Dan pertandingan kembali seri.
Sorak-sorai membahana dari setiap penonton, baik kedua tim memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dua tim mengangkat piala juara 1 bersama-sama.
***
Hari terakhir semester 1, murid-murid berkumpul, berdesak-desakkan melihat papan pengumuman. Adny duduk di bangku, tidak jauh dari sana. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengetahui nilainya.
Semalam ia sudah berpamitan pada bola basketnya, sedih karena tahu tidak akan bisa lagi bermain bersama. Pertandingan kemarin adalah perpisahan untuknya, selain itu cita-citanya sudah terkabul. Bagaimanapun ia sudah ikhlas dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Adny berfikir positif atas kejadian ini, pada akhirnya aku bisa membagi waktu.
Farah menghampirinya, “selamat ya” ucap Farah gembira.
“ya, kau sudah mengucapkannya kemarin, lagi pula itu yang terakhir”
 “aku gak ngomongin basket,” Farah terlihat kebingungan. “kau-” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Adny sudah berlari melihat papan pengumuman, menerobos sampai tepat didepan papan. Ia mencari dari urutan 15 besar, 10 besar, dan-
3     3.       Farah khairunnisa
4     4.       Dewi Aulia

5     5.       M. Hadny Ashad

1 komentar:

  1. Casinos Near Me - Mapyro
    Find the best Casinos near 여주 출장마사지 you in Las Vegas, 파주 출장마사지 NV near Casino Las Vegas, located 사천 출장마사지 in Las Vegas at 1 목포 출장마사지 Fremont Street. Save big with 의정부 출장샵 Mapyro reviews,

    BalasHapus