Basket
by: AS
Bel istirahat memecah situasi
menegangkan pagi itu, dengan cepat murid-murid mengumpulkan kertas ulangan
mereka.
“kau tidak ke kantin?” Tanya Farah, sahabatnya
sejak kecil.
“lagi malas” jawab Adny tak acuh.
Ia menatap keluar jendela. Farah duduk didepannya, membuka buku metematika.
“tumben kau rajin” ejek Adny
Alis Farah merapat, heran dengan
Adny. “jangan bilang kau lupa?”
“apa?”
“ulangan matematika”
Adny mendengus kesal,“tadi aja gak
bisa, apalagi ini.” Adny melirik Farah didepannya, ia lalu menopang kepala
dengan tangan kirinya. Kalau sudah begini, pasti-
“kau ngapain aja sih?” introgasi
dimulai
***
Hari-hari menyebalkan itu dimulai
sejak sebulan sebelum pembukaan kejuaraan basket tingkat nasional, saat itu tim
basket sekolah berambisi merebut piala kejuaraan dan sejak saat itu juga
pelajaran kelas Adny mulai berantakan. Apalagi sekarang mereka berhasil lolos
ke semi final, yang terpikir di kepala Adny hanya masuk final dan merebut juara
1.
“Adny!!!” bentakan Pak Tri siang
itu sontak mengembalikan pikirannya dari lamunan, “20 kali keliling lapangan!”
“ta-tapi pak, saya tidak ngobrol”
bela Adny
“memang tidak. Tapi kamu melamun”
bentak Pak Tri lagi.
Adny menundukkan kepala,“tapi
perjanjiannya tadi kan kalau ngobrol pak, dan saya juga tidak melamun”
Pak Tri menahan kesal,“baik!” kata
Pak Tri akhirnya, “kerjakan soal itu”
Adny maju ke depan, ia yakin dapat
mengerjakan soal itu dengan mudah. Tapi saat ia mulai mengerjakan soal, aduh!
Apaan nih?? Mati aku.
Mata pak Tri berkilat-kilat marah,
“50 putaran! Sekarang!” kali ini dengan menekankan pada kata ‘sekarang’
Reflex mulut Adny membuka lebar,
saingan dengan matanya yang juga melotot. Beneran mati aku! Tanpa
menunggu perintah lagi, Adny langsung melesat ke lapangan.
***
haduuh! Sangking aku cinta sama
lapangan, setiap hari ditendang ke lapangan terus. Jadi hobi semua guru!, batin
Adny, tapi kali ini lebih parah! Ngapain sih nyuruh jagain bendera?? kayak
ada yang mau maling aja. Pake acara hormat segala pula. Ditambah lagi ini
papan. Malu-maluin. Mending disuruh lari keliling lapangan, itung -itung
latihan. Buang-buang waktu, omel Adny terus-terusan. Keringatnya mengucur deras. ia lalu melihat
ke atas, beberapa menit lagi matahari tepat di atas kepalanya.
“hei itu Adny kapten tim basket
sekolah kita kan?” beberapa siswa yang tidak sengaja lewat mulai berbisik-bisik
“Adny anaknya Pak Dani?” timpal
siswa lainnya
“tapi kenapa dia selalu disetrap
ya?”
Salah satu siswa menatap sinis ke
arah Adny,“palingan gak merhatiin saat guru mengajar atau dia gak
ngerjain pr”
“ia, dengar-dengar sih,
nilai-nilainya… menurun semua semester ini” anak lainnya mulai menimpali
“oh ya? Bukannya dia siswa terbaik
waktu kelas 10”
“mungkin dia terlalu memenangkan
basket”
“mana ada? Aku rasa itu Adny yang
sebenarnya. Akhirnya keadilan ditegakkan di sekolah ini” ucap seorang siswa,
sorot matanya penuh kebencian.
“maksudmu apa?”
“sudah jelaskan? Dia jadi siswa
terbaik karena dia anak-”
Cukup! Teriak Adny dalam
hati. Tidak sanggup lagi menahan kemarahannya yang sudah meluap-luap. Ia
mengacak-acak rambutnya, berteriak frustasi.
Anak-anak yang membicarakannya
tadi sudah menghilang entah kemana. “seenaknya mereka bicara begitu”
“sialaaaann!!!” teriaknya untuk
yang kedua kalinya. Bersamaan dengan bel istirahat.
Anak-anak mulai berkeliaran di
luar kelas. Adny belum juga beranjak dari tiang bendera, meski sudah berubah
posisi. Ia duduk menunduk.
“ini…” Farah menyodorkan botol air
minum
Adny menggeleng, “aku bisa tambah
kena masalah”
“kalau mau minum sekarang” Farah
bersikeras
“terima kasih”
“huh kau ini hobi banget
dihukum”
Adny unjuk gigi, nyengir ‘mau
gimana lagi?’
“yaah terserah kau saja” Farah
pergi meninggalkan Adny.
Jam pelajaran terakhir, English
by Mr. Fariz. Sepanjang hampir satu jam pelajaran berjalan mulus dan
‘normal’. Tapi sepertinya masalah selalu mengekor Adny. Sekeras apapun Adny
mencoba, tak pernah berhasil.
“Adny!” Adny sedikit terkejut. Bukan
apa-apa, hanya saja kali ini, sedikit lebih lembut. Mr. Fariz menghela nafas
sejenak lalu melanjutkan kata-katanya dalam bahasa Inggris, “I was very
boring to punish you. It’s useless.”
“yeah, me too” gumam Adny,
tapi cukup untuk membuat Mr. Fariz menaikkan alisnya.
“You’re never change at all.
What is your problem kid?” tidak ada yang berbicara, semuanya penasaran
pada jawaban Adny.
“please, come to the teacher’s
office, the 2nd floor” kata Mr. Fariz akhirnya, tepat saat bel
pulang berbunyi.
Adny berjalan menyusuri
koridor-koridor kelas, hingga sampai di kantor guru, ia lalu menaiki
satu-satunya tangga yang ada disana. Sejenak rasa takut menyelimuti hatinya,
ayahnya tidak akan main-main kali ini. Dengan ragu ia mengetuk pintu.
“masuk” kata Pak Dani, kepala SMAN 1 Metro.
Beliau mempersilahkan Adny duduk.
“bagaimana persiapan untuk final
nanti Adny?” Pak Dani memulai pembicaraan.
“lancar pak, sekarang latihannya
setiap hari sepulang sekolah dan fullI di hari minggu” jawab Adny
bersemangat. Dia lalu menjelaskan rincian kegiatan tim basket selama seminggu.
Hal yang dikhawatirkannya sudah pergi jauh-jauh.
Pak Dani mengengguk-anggukkan
kepalanya,“lalu bagaimana persiapanmu untuk ujian semester ini Adny?”
“itu…”
“aah, bapak yakin kau sudah
menyiapkannya dari jauh-jauh hari,” sela Pak Dani. “dua semester kemarin kau
memegang peringkat 1 bukan?” Pak Dani tersenyum. “bapak yakin kau akan
peringkat satu lagi kali ini”
Adny menundukkan kepalanya, tidak
berani menatap wajah Pak Dani
“tapi bapak rasa kau kesulitan
sekarang-”
“bapak sudah tahu?” kata Adny
perlahan
“tentu saja Adny, saya sudah bosan
mendengar laporan dari guru-gurumu! Melamun, tidur saat jam pelajaran, tidak
buat pr, lebih lagi nilai-nilaimu sekarang jelek!!!” Adny makin menenggelamkan
kepala.
“dengar Adny. Jika kau tidak
berubah jangan harap bisa memegang bola basket lagi!” kata Pak Dani penuh
ketegasan disetiap kalimatnya. Adny tidak bisa berkutik lagi, ia pasrah.
***
Suasana malam yang sangat ramai
sudah menjadi makanan sehari-hari bagi orang-orang di kota itu. Di atas sana
langit berwarna hitam pekat, hanya sedikit yang menyadari cahaya bulat sempurna
menggantung disana, persis seperti bola di tangan Adny.
Tidak bosan-bosan ia memainkannya,
memantulkannya sesuka hati. Sesekali beradu dengan plafon, juga dinding, dan
lemari, hingga akhirnya meluncur tepat ke arah meja belajar, menghancurkan menara-menara
buku dengan sekali lemparan.
Adny segera mengangkat buku-buku
yang berjatuhan. Lembaran-lembaran kertas juga ikut berserakan. Ia
mengumpulkannya menjadi satu lalu menjepitnya dengan penjepit kertas. Beberapa
diantaranya adalah kertas ulangan hariannya minggu kemarin, jelek!!! .
Adny segera menyingkirkan kertas lalu
melihat memo yang bersebelahan dengan kalender kecil diatas meja belajar. Ia memikirkan
sesuatu. “baiklah!!” katanya penuh semangat, lalu berbaring dan terlelap dalam
mimpinya.
***
Seusai jam pelajaran terakhir,
Adny berjalan-jalan mengitari lorong. Ia sibuk merencanakan sesuatu. tapi…
kalau cuma seperti ini mana bisa, Mengikuti kemana kaki melangkah, tidak
sadar ia berada di depan gedung perpustakaan. Seseorang seperti berbisik
ditelinganya, mendorongnya untuk masuk.
Sasana sunyi itu sudah lama tidak
dirasakannya, rak-rak yang menjulang tinggi penuh dengan buku-buku seakan
memanggil-manggil Adny. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong buku hingga ia
melihat sesosok yang dikenalnya duduk memunggunginya bersama tumpukan-tumpukan
buku diatas meja.
“ooh kau sering disini rupanya”
Farah menengok kebelakang lalu
kembali menulis, “kenapa?”
“tidak” Adny duduk disebelahnya.
hening beberapa saat.
“Far ajarin aku ya?”
“belajar bareng.” Kata
Farah akhirnya.
Berubah tidak semudah membalikkan
telapak tangan, apalagi untuk tujuan yang dirasa sedikit mustahil. Tapi itu
tidak menyurutkan semangat Adny. Setiap hari sebelum berlatih basket ia belajar
bersama Farah dan teman-temannya di perpustakaan. Bahkan saat istirahat latihan
disempatkan untuk belajar.
“kau harus pandai membagi waktu” kata-kata
Farah terngiang dikepalanya. Ia sudahi belajarnya malam itu. lagi pula besok
adalah ujian semester pertama di kelas XI, dia akan butuh banyak istirahat
sekarang.
5 menit, 10 menit, tidak juga bisa
memejamkan mata. Adny terlalu gelisah memikirkan ujian besok dan konsekuensi
jika dia gagal.
“pasti bisa” ia berusaha menghibur
diri. “ia pasti bisa, selama 2 minggu ini ibaratnya aku tidak lagi berjalan,
aku sudah berlari! Jadi, hasilnya pasti bagus.”
Adny menarik selimutnya. Kantuk
mulai menguasai, “berjuanglah!” sayup-sayup sebuah suara berbisik bersama
angin. Suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia pun terlelap.
Minggu-minggu
berikutnya berjalan lancar. Baik ujian
maupun latihan dijalaninya dengan baik. Hingga akhirnya sampailah pada hari
penentuan latihan selama ini. Pagi-pagi sekali Adny dan teman-temannya sudah berkumpul disekolah. Sebelum
berangkat mereka diberi pengarahan dan dorongan semangat oleh kepala sekolah.
Minggu-minggu berikutnya berjalan
lancar. Baik ujian maupun latihan
dijalaninya dengan baik. Hingga akhirnya sampailah pada hari penentuan latihan
selama ini. Pagi-pagi sekali Adny dan
teman-temannya sudah berkumpul disekolah. Sebelum berangkat mereka diberi
pengarahan dan dorongan semangat oleh kepala sekolah.
permainan dimulai tepat jam 10.
Quarter pertama berjalan lancar dengan tim Adny memimpin 8-5, namun quarter berikutnya tim lawan mulai
mengejar dan berhasil menyamakan kedudukan. Hingga sampailah pada quarter
terakhir, skor kedua tim masih saling kejar-mengejar. Belum dapat diprediksi
siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Satu tembakan mematikan lahir di
menit terakhir. Skor penentuan. Setiap pasang mata terpaku pada arah bola.
Sunyi beberapa saat. Tubuh Adny bergetar hebat menyaksikan bola melaju dengan
kencang, rasanya tidak mungkin ada yang bisa menghentikan.
Suara peluit terdengar jelas.
Tidak ada yang bersuara, sorak-sorai kemenangan pun tidak. Semuanya masih
terbengong-bengong menyaksikan kejadian yang begitu cepat itu, bola terpental
keluar lapangan. Tepat saat peluit dibunyikan.
Pada quarter tambahan keadaan
berbalik, tim lawan unggul 3 point. Tim Adny mulai kelelahan, begitu juga
dengan Adny, dengan kondisi kaki cedera ia semakin sulit melakukan penyerangan.
Kembali tiba di menit-menit terakhir, teman-temannya dijaga ketat. Waktu terus
berjalan. Tidak ada pilihan lain, dilupakannya rasa sakit pada kakinya, Adny
melompat untuk melakukan tembakan. Seorang lawan yang bertubuh besar berhasil
menghadangnya. Adny terlempar. Tepat sebelum menyentuh lapangan, Adny melihat
pertahanan lawan mulai berkurang. Disudut matanya, Hasan berlari tanpa
penjagaan. Tidak membuang kesempatan, Adny mengoper bola. Dan pertandingan
kembali seri.
Sorak-sorai membahana dari setiap penonton,
baik kedua tim memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dua
tim mengangkat piala juara 1 bersama-sama.
***
Hari terakhir semester 1,
murid-murid berkumpul, berdesak-desakkan melihat papan pengumuman. Adny duduk
di bangku, tidak jauh dari sana. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengetahui
nilainya.
Semalam ia sudah berpamitan pada
bola basketnya, sedih karena tahu tidak akan bisa lagi bermain bersama. Pertandingan
kemarin adalah perpisahan untuknya, selain itu cita-citanya sudah terkabul.
Bagaimanapun ia sudah ikhlas dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya
lagi. Adny berfikir positif atas kejadian ini, pada akhirnya aku bisa
membagi waktu.
Farah menghampirinya, “selamat ya”
ucap Farah gembira.
“ya, kau sudah mengucapkannya
kemarin, lagi pula itu yang terakhir”
“aku gak ngomongin basket,” Farah
terlihat kebingungan. “kau-” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Adny sudah
berlari melihat papan pengumuman, menerobos sampai tepat didepan papan. Ia
mencari dari urutan 15 besar, 10 besar, dan-
3 3.
Farah khairunnisa
4 4.
Dewi Aulia
5 5.
M. Hadny Ashad
Casinos Near Me - Mapyro
BalasHapusFind the best Casinos near 여주 출장마사지 you in Las Vegas, 파주 출장마사지 NV near Casino Las Vegas, located 사천 출장마사지 in Las Vegas at 1 목포 출장마사지 Fremont Street. Save big with 의정부 출장샵 Mapyro reviews,