Sabtu, 31 Januari 2015

Cerpen-ku

Hai sobat, cerpen ini saya buat untuk tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. cerpen ini saya buat ketika saya kelas x, so kalau jelek mohon dimaklumi ya :)

TERJAWAB!
by: Khansa Salsabila

Namaku Nora Khoirunnisa, gadis 16 tahun. bersaudara dengan laki-laki yang 2 tahun lebih tua dariku dan balita kembar yang juga laki-laki. Sepanjang aku berada di dunia ini kehidupanku tidak terlalu buruk, tapi cukup buruk. Sejak kecil aku terbiasa bangun tanpa melihat wajah ibu atau ayahku. Hanya kakakku yang mondar-mandir dikepalaku, ia selalu bermain denganku hingga kedua orangtua kami pulang. Tapi kini aku kembali ditinggal, ia sama seperti ayah dan ibu, walau secara teknis ia lebih cepat 2 jam.
Kehidupan rumah yang membosankan! Sering terlintas dibenakku pertanyaan yang tidak pernah bisa kutemukan jawabannya,‘kenapa?’. Dan aku tidak ingin itu terjadi juga pada adik-adikku, membayangkan mereka dirumah sudah membuat perutku mual, mungkin inilah alasan ketidak-aktifanku di ekskul.
Aku terus menendang-nendang kerikil di jalanan, memperhatikan mereka terlempar tak beraturan sementara tanganku memegang satu sama lain. Aku tak peduli seperti apa tampangku saat itu, yang ku tahu bebanku sedikit menghilang-atau mungkin sembunyi-aku tak peduli.
“sudah pulang Nora?” sapa seorang lelaki paruh baya dari balik pagar kayu tua, ia tersenyum ramah padaku.
Sedikit memaksa, bibirku melengkung membentuk senyum, aku bisa merasakan mataku menyipit-salah satu hadiah dari ayahku-dan sebentuk lubang kecil mencuat di sebelah kanan bibirku-dan yang ini dari ibuku-. “iya pakde-”
Perlahan-lahan aku memasukkan tanganku ke lubang kecil, lalu menarik sebentuk gagang. Keryitan panjang tak tertahankan lagi, segera aku masuk dan menguncinya kembali. Salah satu kegemaranku, menyaksikan bunga berwarna-warni itu menari bersama angin, menyambutku. Aku menghampiri salah satu bunga, tulip putih itu sedang kuncup, tidak sabar rasanya menunggu mereka bermekaran.  Dan aku juga sudah tidak sabar untuk berada di bawah kipas angin.
“Ra ayahmu sudah berangkat keluar kota” kata mbak Pia, tukang cuci nggosok dirumahku.
Dia sudah bersiap-siap pulang, mungkin menungguku tadi, “ya” jawabku.
“oh ya, adikmu tidur, nanti kalau bangun buatkan susu”
“yaa”                                                    
***
Setelah solat magrib, seperti biasanya aku dan kakakku menonton tv, dan untuk kali ini ibuku juga. Tidak biasanya ibu pulang cepat, bahkan tadi berbarengan dengan kakak. Dan sekarang Dani merengek-rengek pada ibu. Aku tidak bisa lagi mendengar suara tv. Ku lirik kakakku, memintanya membesarkan volume. Tiba-tiba listrik padam, tangis Dani semakin kuat. Dian tidak tahan untuk tidak menangis juga. Sedetik kemudian listrik kembali menyala, padam, dan menyala lagi, tapi dengan tegangan kecil. Dian dan Dani berhenti menangis, mereka malah sibuk memerhatikan lampu.
“tv-nya matiin ya” kata kakakku.
Kemudian terdengar suara gedebuk di luar, tapi bukan suara orang jatuh, seperti benda besar terbanting, aku mendengar suara tetanggaku dan beberapa orang lainnya. Dian dan Dani berlari mengintip dari jendela depan, aku juga ikut-ikutan mereka. Sebuah truk berhenti di depan rumahku, dan orang-orang ramai diluar, salah seorang tetanggaku berteriak pada orang yang membawa truk. Tiba-tiba Dian berteriak-teriak, aku berusaha memahaminya, barulah ketika dia menunjuk tiang listik, tiang listik di halaman rumah kami api! Aku melotot, menahan nafas. Jantungku rasanya seperti berhenti, akal sehatku macet, aku diam, tidak bergerak dan tidak berkata-kata ataupun menjerit.
“Nora patiin sekring-nya!” perintah kakakku, ia berlari kebelakang. Aku segara menarik sekring diatasku. Beberapa menit kemudian kakakku datang membawa kunci. Terlalu gelap, beberapa kali kunci meleset. ibuku sudah tidak sabar untuk keluar. Seorang tetanggaku menggedor pintu, suaranya sangat panik. Ibu menyuruh kakakku untuk cepat, aku ingat mengantongi hp aduh! Aku berjongkok meraba lantai.
 Klik, pintu terbuka. Adik-adikku berlari keluar. Ibu menjerit meminta tetanggaku untuk menahan truk itu, sejak tadi pun begitu, aku gemetaran melihat ibuku sangat panik, belum lagi api di tiang semakin membesar.
“bu gas-nya dicabut gak?” suaraku sedikit tertahan. Ibuku segera masuk ke rumah. Aku menunggunya didepan pintu sambil memegang hp kakakku.
“buu?”
“buuu??”
Tidak ada jawaban.
aku menjerit lebih kencang, “ibuuuu???”
“apa sih? Ibu ganti baju dulu”
cepetaan” aku ikut masuk kerumah, tidak bisa aku hanya menunggu di luar sementara ibuku disana di dalam rumah sendirian dalam keadaan gelap dan sesuatu bisa terjadi dengan cepat. Tidak!!! Aku tidak mau sesuatu terjadi pada ibuku, setidaknya aku bersamanya, itu yang mendorong keberanianku.
“ayo!” kataku ketika aku melihatnya.
***
 “wak truk itu tadi yang nabrak! Saya ngeliat!”
“dia yang nabrak!”
“api itu gimana?? Jangan nonton aja!”
“Julian selang panjang mana?? Julian cari selang! Nora ambil semprotan motor ayah!“
“itu make listrik”
“bu dimananya???” teriak kakakku dari dalam. Ibuku segera menyusul masuk dan segera keluar lagi.
“Nora mana semprotannya?? Pasang cepat!”
gabisa, pake listrik”
yaudah cepat!”
“mati lho” suaraku makin tercekik
“bu adanya yang pendek” Julian segera memasang selang, tapi tetap saja tidak berguna. Aku melirik api di tiang listrik, salah seorang dari mereka berusaha mencipratkan air dari atas truk. Aku geregetan melihatnya, kalau caranya seperti itu kapan padamnya! Percikan-percikan listrik berwarna biru berkelebat di sekelilingku, disertai suara yang mengerikan. Refleks aku memalingkan wajah dan berlari keluar halaman, aku bergidik ngeri.
“ibuuu” jeritku akhirnya. Ibu diam mematung, menatap api ditiang listrik yang semakin lama semakin kecil, aku sangat khawatir melihatnya, aku merasakan ketakutannya, lebih besar dari rasa takutku sendiri, aku memeluk pundaknya,berharap aku bisa menenangkan hatinya, seakan memberitahunya Nora disini bu, andai aku bisa melakukan yang lebih baik dari pada ini. Tapi aku sadar tidak berdaya.
Aku terus menatap sekumpulan orang-orang itu, menatap tiang listrik, dan rumahku. Aku belum bisa bernafas lega, kami masih dalam bahaya. Aku takut. tidak sanggup aku membayangkan jika rumahku terbakar. Buku-bukuku, hp, laptop, pakaian, seragam sekolah, dan satu-satunya pialaku , hartaku yang paling berharga. Astaghfirullah, jangan berfikir macam-macam! Sekuat aku mengusir fikiran burukku, semakin gencar mereka menyarangku, mataku mulai kunang-kunang, ku tutup mulutku rapat-rapat.
Ya Allah Ya Tuhanku, Ya Rahman Ya Rahim Ya malik Ya Kuddus Ya Salam Ya Aziz Ya Jabbar Ya Hakim Ya alim, Ya Allah Ya Tuhanku Yang Maha Kuasa ampunilah dosa-dosa kedua orangtua hamba, ampunilah dosa-dosa hamba. Ya Allah selamatkanlah kami, lindungilah kami, dan jauhkanlah kami dari bahaya, serta selamatkanlah harta benda kami ya Allah. Ya Allah Ya Tuhanku tenangkanlah jiwa kami, tenangkanlah hati ibuku, tenangkanlah hatiku, berilah ketabahan dan kekuatan pada kami Ya Allah. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanataw wa qina azabannar. Aamiin Ya rabbal alamin.
Aku menarik nafas dalam-dalam, Dian dan Dani menarik-narik rambutku, oh ya Allah. Tidak sadar aku sudah sejauh ini maafkanlah aku,mohonku. aku tersenyum kecil mengingat kelakuanku, seenaknya lari kesini tanpa memakai kerudung, dan untungnya aku mengenakan rok panjang malam ini. Aku melirik ibuku, lengkap dengan kerudung dan baju panjang, subhanallah.
Wak dan bude, tetanggaku, serta ibuku sudah melupakan kepanikan mereka tadi, mereka malah asyik menceritakan kejadian-kejadian lucu yang sempat terjadi tadi, aku geli sendiri mendengarnya.
Beberapa saat kemudian, orang-orang yang membawa truk tadi membenarkan kabel yang putus dan memeriksa kabel-kabel di tiang listrik. Sebelumnya aku sanksi mereka bisa, tapi setelah mereka menjelaskan mereka dari Dinas pertamanan yang tugasnya membenarkan lampu-lampu jalan yang mati dan ketika orang dari PLN yang di telpon tetanggaku datang dan dia ‘mundur’, barulah aku percaya.
Tidak lama kemudian, bapak dari Dinas itu meminta ibuku untuk menyalakan lampu rumah, tapi ibuku tidak berani, begitu pula aku. Akhirnya bapak itu yang menaikkan sekringnya dan Alhamdulillah listrik kembali menyala dan tidak terjadi apa-apa.
Aku terus memerhatikan orang-orang diluar yang masih sibuk membenarkan kabel, kakakku juga disana, entah apa fungsinya disana. Keluarga bude juga masih diluar, menunggu kabel mereka diperbaiki.
Sekitar jam 12 mereka selesai, aku mendengarkan dari kamar, kakakku mengunci pintu dan suara truk yang kembali melaju. Aku berlari ke ruang tamu. Melihat keluar. Lampu jalan yang sudah 3 tahun ini mati, kembali menyala.
 Aku terus menerus bersyukur pada Allah. Peristiwa malam ini telah membuka hatiku pada kuasa Allah yang begitu besar, Allah seperti memberitahuku bahwa pilihan-Nya lah yang terbaik, bahwa disetiap musibah dan masalah yang terjadi Dia selalu memberikan jalan keluarnya, bahwa Dia memiliki tujuan dari musibah yang dihadirkannya, bahwa disetiap masalah pasti terdapat hikmah dibaliknya. Subhanallah, Maha Suci Allah, Dzat Yang Maha Sempurna.
***
Dua hari kemudian, setelah mendengar kejadian malam itu, ayah langsung memanggil tukang untuk memangkas pohon mangga yang berada tepat dibawah tiang listrik, dan juga orang PLN untuk memeriksa kabel-kabel yang mengarah ke rumahku. Dan berita baiknya lagi ibuku mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih untuk menjaga kami dirumah. Dan aku mengikuti club badminton!.
***
Pagi itu langit masih berwarna kelabu, dengan mantap kulangkahkan kaki, sepatu pantopel hitam pekat itu makin mempertegas langkahku. Ku rentangkan tangan, memenuhi tubuhku dengan udara pagi yang sangat segar, beraroma rumput dan hujan, dan bunga-bunga di pekaranganku. Bunga tulip putih itu kini bermekaran, menunjukkan keindahannya pada dunia setelah betahun-tahun tertatih-tatih.
“Noraa, bekalmu tertinggal nih”
Aku menengok ke arah pintu, ibuku tersenyum disana. aku menerima bekal buatan ibuku itu. Awal ibu mulai membuatkannya untukku aku menolaknya, aku tidak terbiasa membawa bekal. Aku mengintip bekal hari itu; sayur sop dan cumi goreng, kesukaanku.
“mau ibu antar?” tawar ibuku.
Aku menggeleng, “udaranya masih segar untuk jalan-”
“assalamu’alaikum”  ucapku setelah mencium tangan ibuku.
“wa’alaikumsalam, hati-hati Nora”
Aku mengangguk dan berlari kecil melewati gerbang. Kutatap sejenak jalanan yang masih sepi itu, kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan. Aku mulai berjalan, kutampakkan senyum termanisku. Pertanyaan itu, sudah terjawab!
TAMAT

terima kasih ya yang udah baca, semoga sobat sekalian bisa memetik hikmah dari cerita saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar