Hai sobat, cerpen ini saya buat untuk tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. cerpen ini saya buat ketika saya kelas x, so kalau jelek mohon dimaklumi ya :)
TERJAWAB!
by: Khansa Salsabila
by: Khansa Salsabila
Namaku Nora Khoirunnisa,
gadis 16 tahun. bersaudara dengan laki-laki yang 2 tahun lebih tua dariku dan
balita kembar yang juga laki-laki. Sepanjang aku berada di dunia ini
kehidupanku tidak terlalu buruk, tapi cukup buruk. Sejak kecil aku terbiasa bangun
tanpa melihat wajah ibu atau ayahku. Hanya kakakku yang mondar-mandir
dikepalaku, ia selalu bermain denganku hingga kedua orangtua kami pulang. Tapi
kini aku kembali ditinggal, ia sama seperti ayah dan ibu, walau secara teknis
ia lebih cepat 2 jam.
Kehidupan rumah yang
membosankan! Sering terlintas dibenakku pertanyaan yang tidak pernah bisa
kutemukan jawabannya,‘kenapa?’. Dan aku tidak ingin itu terjadi juga
pada adik-adikku, membayangkan mereka dirumah sudah membuat perutku mual,
mungkin inilah alasan ketidak-aktifanku di ekskul.
Aku terus
menendang-nendang kerikil di jalanan, memperhatikan mereka terlempar tak
beraturan sementara tanganku memegang satu sama lain. Aku tak peduli seperti
apa tampangku saat itu, yang ku tahu bebanku sedikit menghilang-atau mungkin
sembunyi-aku tak peduli.
“sudah pulang Nora?”
sapa seorang lelaki paruh baya dari balik pagar kayu tua, ia tersenyum ramah
padaku.
Sedikit memaksa,
bibirku melengkung membentuk senyum, aku bisa merasakan mataku menyipit-salah
satu hadiah dari ayahku-dan sebentuk lubang kecil mencuat di sebelah kanan
bibirku-dan yang ini dari ibuku-. “iya pakde-”
Perlahan-lahan aku
memasukkan tanganku ke lubang kecil, lalu menarik sebentuk gagang. Keryitan
panjang tak tertahankan lagi, segera aku masuk dan menguncinya kembali. Salah
satu kegemaranku, menyaksikan bunga berwarna-warni itu menari bersama angin,
menyambutku. Aku menghampiri salah satu bunga, tulip putih itu sedang kuncup,
tidak sabar rasanya menunggu mereka bermekaran. Dan aku juga sudah tidak sabar untuk berada di
bawah kipas angin.
“Ra ayahmu sudah berangkat
keluar kota” kata mbak Pia, tukang cuci nggosok
dirumahku.
Dia sudah bersiap-siap
pulang, mungkin menungguku tadi, “ya” jawabku.
“oh ya, adikmu tidur,
nanti kalau bangun buatkan susu”
“yaa”
***
Setelah solat magrib,
seperti biasanya aku dan kakakku menonton tv, dan untuk kali ini ibuku juga.
Tidak biasanya ibu pulang cepat, bahkan tadi berbarengan dengan kakak. Dan
sekarang Dani merengek-rengek pada ibu. Aku tidak bisa lagi mendengar suara tv.
Ku lirik kakakku, memintanya membesarkan volume. Tiba-tiba listrik padam,
tangis Dani semakin kuat. Dian tidak tahan untuk tidak menangis juga. Sedetik
kemudian listrik kembali menyala, padam, dan menyala lagi, tapi dengan tegangan
kecil. Dian dan Dani berhenti menangis, mereka malah sibuk memerhatikan lampu.
“tv-nya matiin
ya” kata kakakku.
Kemudian terdengar
suara gedebuk di luar, tapi bukan suara orang jatuh, seperti benda besar terbanting,
aku mendengar suara tetanggaku dan beberapa orang lainnya. Dian dan Dani
berlari mengintip dari jendela depan, aku juga ikut-ikutan mereka.
Sebuah truk berhenti di depan rumahku, dan orang-orang ramai diluar, salah
seorang tetanggaku berteriak pada orang yang membawa truk. Tiba-tiba Dian
berteriak-teriak, aku berusaha memahaminya, barulah ketika dia menunjuk tiang
listik, tiang listik di halaman rumah kami api! Aku melotot, menahan
nafas. Jantungku rasanya seperti berhenti, akal sehatku macet, aku diam, tidak
bergerak dan tidak berkata-kata ataupun menjerit.
“Nora patiin
sekring-nya!” perintah kakakku, ia berlari kebelakang. Aku segara menarik
sekring diatasku. Beberapa menit kemudian kakakku datang membawa kunci. Terlalu
gelap, beberapa kali kunci meleset. ibuku sudah tidak sabar untuk keluar. Seorang
tetanggaku menggedor pintu, suaranya sangat panik. Ibu menyuruh kakakku untuk
cepat, aku ingat mengantongi hp aduh! Aku berjongkok meraba lantai.
Klik, pintu terbuka. Adik-adikku
berlari keluar. Ibu menjerit meminta tetanggaku untuk menahan truk itu, sejak
tadi pun begitu, aku gemetaran melihat ibuku sangat panik, belum lagi api di
tiang semakin membesar.
“bu gas-nya dicabut
gak?” suaraku sedikit tertahan. Ibuku segera masuk ke rumah. Aku menunggunya
didepan pintu sambil memegang hp kakakku.
“buu?”
“buuu??”
Tidak ada jawaban.
aku menjerit lebih
kencang, “ibuuuu???”
“apa sih? Ibu ganti
baju dulu”
“cepetaan” aku
ikut masuk kerumah, tidak bisa aku hanya menunggu di luar sementara ibuku
disana di dalam rumah sendirian dalam keadaan gelap dan sesuatu bisa terjadi
dengan cepat. Tidak!!! Aku tidak mau sesuatu terjadi pada ibuku, setidaknya aku
bersamanya, itu yang mendorong keberanianku.
“ayo!” kataku ketika
aku melihatnya.
***
“wak truk itu tadi yang nabrak! Saya ngeliat!”
“dia yang nabrak!”
“api itu gimana??
Jangan nonton aja!”
“Julian selang panjang
mana?? Julian cari selang! Nora ambil semprotan motor ayah!“
“itu make
listrik”
“bu dimananya???”
teriak kakakku dari dalam. Ibuku segera menyusul masuk dan segera keluar lagi.
“Nora mana
semprotannya?? Pasang cepat!”
“gabisa, pake
listrik”
“yaudah cepat!”
“mati lho”
suaraku makin tercekik
“bu adanya yang pendek”
Julian segera memasang selang, tapi tetap saja tidak berguna. Aku melirik api
di tiang listrik, salah seorang dari mereka berusaha mencipratkan air dari atas
truk. Aku geregetan melihatnya, kalau caranya seperti itu kapan padamnya! Percikan-percikan
listrik berwarna biru berkelebat di sekelilingku, disertai suara yang mengerikan.
Refleks aku memalingkan wajah dan berlari keluar halaman, aku bergidik ngeri.
“ibuuu” jeritku
akhirnya. Ibu diam mematung, menatap api ditiang listrik yang semakin lama
semakin kecil, aku sangat khawatir melihatnya, aku merasakan ketakutannya,
lebih besar dari rasa takutku sendiri, aku memeluk pundaknya,berharap aku bisa
menenangkan hatinya, seakan memberitahunya Nora disini bu, andai aku
bisa melakukan yang lebih baik dari pada ini. Tapi aku sadar tidak berdaya.
Aku terus menatap
sekumpulan orang-orang itu, menatap tiang listrik, dan rumahku. Aku belum bisa
bernafas lega, kami masih dalam bahaya. Aku takut. tidak sanggup aku
membayangkan jika rumahku terbakar. Buku-bukuku, hp, laptop, pakaian, seragam
sekolah, dan satu-satunya pialaku , hartaku yang paling berharga. Astaghfirullah,
jangan berfikir macam-macam! Sekuat aku mengusir fikiran burukku, semakin
gencar mereka menyarangku, mataku mulai kunang-kunang, ku tutup mulutku
rapat-rapat.
Ya Allah Ya Tuhanku, Ya
Rahman Ya Rahim Ya malik Ya Kuddus Ya Salam Ya Aziz Ya Jabbar Ya Hakim Ya alim,
Ya Allah Ya Tuhanku Yang Maha Kuasa ampunilah dosa-dosa kedua orangtua hamba,
ampunilah dosa-dosa hamba. Ya Allah selamatkanlah kami, lindungilah kami, dan
jauhkanlah kami dari bahaya, serta selamatkanlah harta benda kami ya Allah. Ya
Allah Ya Tuhanku tenangkanlah jiwa kami, tenangkanlah hati ibuku, tenangkanlah
hatiku, berilah ketabahan dan kekuatan pada kami Ya Allah. Rabbana atina
fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanataw wa qina azabannar. Aamiin Ya rabbal
alamin.
Aku
menarik nafas dalam-dalam, Dian dan Dani menarik-narik rambutku, oh ya Allah.
Tidak sadar aku sudah sejauh ini maafkanlah aku,mohonku. aku tersenyum
kecil mengingat kelakuanku, seenaknya lari kesini tanpa memakai kerudung, dan
untungnya aku mengenakan rok panjang malam ini. Aku melirik ibuku, lengkap
dengan kerudung dan baju panjang, subhanallah.
Wak
dan bude, tetanggaku, serta ibuku sudah melupakan kepanikan mereka tadi, mereka
malah asyik menceritakan kejadian-kejadian lucu yang sempat terjadi tadi, aku
geli sendiri mendengarnya.
Beberapa
saat kemudian, orang-orang yang membawa truk tadi membenarkan kabel yang putus
dan memeriksa kabel-kabel di tiang listrik. Sebelumnya aku sanksi mereka bisa,
tapi setelah mereka menjelaskan mereka dari Dinas pertamanan yang tugasnya
membenarkan lampu-lampu jalan yang mati dan ketika orang dari PLN yang di
telpon tetanggaku datang dan dia ‘mundur’, barulah aku percaya.
Tidak
lama kemudian, bapak dari Dinas itu meminta ibuku untuk menyalakan lampu rumah,
tapi ibuku tidak berani, begitu pula aku. Akhirnya bapak itu yang menaikkan
sekringnya dan Alhamdulillah listrik kembali menyala dan tidak terjadi apa-apa.
Aku
terus memerhatikan orang-orang diluar yang masih sibuk membenarkan kabel,
kakakku juga disana, entah apa fungsinya disana. Keluarga bude juga masih
diluar, menunggu kabel mereka diperbaiki.
Sekitar
jam 12 mereka selesai, aku mendengarkan dari kamar, kakakku mengunci pintu dan suara
truk yang kembali melaju. Aku berlari ke ruang tamu. Melihat keluar. Lampu
jalan yang sudah 3 tahun ini mati, kembali menyala.
Aku terus menerus bersyukur pada Allah. Peristiwa
malam ini telah membuka hatiku pada kuasa Allah yang begitu besar, Allah
seperti memberitahuku bahwa pilihan-Nya lah yang terbaik, bahwa disetiap
musibah dan masalah yang terjadi Dia selalu memberikan jalan keluarnya, bahwa
Dia memiliki tujuan dari musibah yang dihadirkannya, bahwa disetiap masalah pasti
terdapat hikmah dibaliknya. Subhanallah, Maha Suci Allah, Dzat Yang Maha
Sempurna.
***
Dua
hari kemudian, setelah mendengar kejadian malam itu, ayah langsung memanggil
tukang untuk memangkas pohon mangga yang berada tepat dibawah tiang listrik,
dan juga orang PLN untuk memeriksa kabel-kabel yang mengarah ke rumahku. Dan
berita baiknya lagi ibuku mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih untuk
menjaga kami dirumah. Dan aku mengikuti club badminton!.
***
Pagi
itu langit masih berwarna kelabu, dengan mantap kulangkahkan kaki, sepatu
pantopel hitam pekat itu makin mempertegas langkahku. Ku rentangkan tangan,
memenuhi tubuhku dengan udara pagi yang sangat segar, beraroma rumput dan
hujan, dan bunga-bunga di pekaranganku. Bunga tulip putih itu kini bermekaran,
menunjukkan keindahannya pada dunia setelah betahun-tahun tertatih-tatih.
“Noraa,
bekalmu tertinggal nih”
Aku
menengok ke arah pintu, ibuku tersenyum disana. aku menerima bekal buatan ibuku
itu. Awal ibu mulai membuatkannya untukku aku menolaknya, aku tidak terbiasa
membawa bekal. Aku mengintip bekal hari itu; sayur sop dan cumi goreng,
kesukaanku.
“mau
ibu antar?” tawar ibuku.
Aku
menggeleng, “udaranya masih segar untuk jalan-”
“assalamu’alaikum”
ucapku setelah mencium tangan ibuku.
“wa’alaikumsalam,
hati-hati Nora”
Aku
mengangguk dan berlari kecil melewati gerbang. Kutatap sejenak jalanan yang
masih sepi itu, kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan. Aku mulai
berjalan, kutampakkan senyum termanisku. Pertanyaan itu, sudah terjawab!
TAMAT
terima kasih ya yang udah baca, semoga sobat sekalian bisa memetik hikmah dari cerita saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar