Sabtu, 01 Oktober 2016

Pak Habibie sebagai idola pemuda/i Indonesia

Biografi BJ Habibie

Kita sedang menatap seorang Habibie sebagai manusia. Manusia biasa seperti kita. Lengkap dengan cerita sedih dan senangnya. Juga kisah gagal dan berhasilnya.
Mengawali hidupnya dari bukan siapa-siapa. Namun karena ia tahu hendak menjadi apa, ia mengejarnya. Hingga dapat. Lalu ia menjadi orang besar. Dan sebagaimana alur hidup orang besar, selalu saja ada banyak hal yang bisa kita ambil inspirasi darinya.
Ada pengejaran dan pembuktian cinta mulia. Ada semangat berkarya tanpa jeda. Ada semangat yang kadang patah, tetapi tak jarang juga tinggi menjulang. Ada kisah manis cinta sejati berbalut kesetiaan hingga ujung usia. Juga ada rampai kenangan manis dan terkadang haru.

Di Pare-pare tepat tanggal 30 Juni 1936, Habibie baru saja lahir dari rahim R.A Tuti Marini Puspowardojo, yang disambut girang oleh ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie.
Semasa belianya, Habibie memiliki banyak nama panggilan. Di keluarganya, ia dipanggil Rudy. Dikalangan teman-temannya ia dipanggil Udding, singkatan dari Bacharuddin.
Selain menggemari naik kuda, kegemaran mengagumkan lainnya dari Habibie adalah membaca buku. Kebiasaan membaca itu tergolong unik dan bahkan bisa dikatakan sangat jarang dipunyai oleh anak-anak seusianya dikampungnya. Bila sudah melihat buku, begitu laparnya ia hingga dilahap semua ilmunya.
Sejak belianya, Habibie sudah tahu gelora apa yang menggedor-gedor dalam dirinya, ke mana ia menyalurkan hasrat intelektualnya dan hendak menjadi apa ia kelak.
Di sekolah, kala guru tengah membincang cita-cita apa yang menjadi gelora para muridnya, dengan begitu tega dan mantapnya Habibie melantangkan: insinyur!
Setelah tiadanya sang ayah, di umur Habibie yang baru 14 tahun itu ibundanya kemudian berinisiatif mengirim Habibie ke jakarta untuk menempuh pendidikan. Namun Habibie tidak merasa nyaman tinggal di Jakarta sehingga ia pindah ke Bandung dan tinggal dengan keluarga Syamsuddin, kepala kantor Tera untuk Indonesia di Bandung.
Di bandung, tempat Habibie tinggal, dekat dengan rumah Ainun yang berada di jalan Ranggamalela No.21. letak SMP mereka pun berdekatan. Barulah semasa SMA, mereka satu sekolahan. Uniknya, -teman-teman dan para guru kerap menjodoh-jodohkan mereka berdua. Sama-sama pintar. Rumahnya berdekatan. Berada di keluarga yang mengutamakan pendidikan. Jadi, anak-anak mereka nantinya juga pasti akan sangat pintar. Begitu olok-olok mereka.
Semasa SMA itu pulalah, prestasi Habibie tampak sekali kecemerlangannya. Nilai 10 kerap didapatnya ketika mengerjakan pelajaran eksakta. Setelah dirampungkan, Habibie melanjutkan kuliahnya ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang sekarang bernama ITB. Hanya 6 bulan ia belajar di sana, ia mendapat izin belajar di Jerman dari kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Artinya Habibie harus memakai biaya sendiri untuk berangkat ke Jerman dan biaya hidup di sana.
Walau harus melepas seluruh tabungan, Tuti mantap dengan pilihannya meloloskan keinginan Habibie. Habibie hanya bisa terharu. Mimpi sudah dibulatkan. Tekad sudah dicanangkan. Habibie kian mantap menjemput cita-cita.
Pada umur 19 tahun Habibie berangkat ke Jerman, disana ia belajar di Rheinisch Westfaelische Technische Honchschule Aachen, Fakultaet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman, dengan jurusan konstruksi pesawat terbang.
Bila Habibie tidak belajar dengan rajin sehingga lulus tepat waktu, itu artinya sama saja dengan menyiksa diri sendiri dengan keprihatinan keadaan yang lebih lama. Itulah mengapa, belajar dengan tekun sekaligus bekerja dengan keras selalu ia upayakan hingga hari baik itu tiba, penganugerahan gelar Diplom Ingenieur (S2) pada usia 23 tahun dengan nilai magna cum laude.
Setalah lulus, Habibie langsung mendapatkan kerja di Jerman. Kesempatan liburan selama 3 bulan ia gunakan untuk pulang ke Indonesia. Siapa sangka, kepulangannya ke Indonesia justru mempertemukannya lagi dengan Hasri Ainun Besari, teman masa SMA-nya yang pernah ditaksirnya sekaligus pernah ditolaknya dengan sebutan si hitam gula jawa.
Tanggal 12 Mei 1962, pernikahan pun digelar. Harian berita Indonesia Jakarta dan koran lokal Bandung merekam momen bahagia yang tergelar meriah di Hotel Preanger Bandung itu. Karena Habibie harus balik ke Jerman untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan doktoralnya, diusunglah Ainun bersamanya.
Setelah pindah ke Hamburg, Habibie bekerja di MBB industri pesawat terbang yang terkenal di dunia . sebelum bekerja di MBB Habibie juga menapaki karier sebagai Kepala Departemen Riset dan Penerbangan Analisis Struktur di HFB GmbH. Tugasnya dalah mencari solusi atas permasalahan  kestabilan konstruksi bagian belakang dari pesawat Fokker 28.  Di HFB pula, Habibie harus merancang pesawat baru. Namanya DO-31, pesawat pengangkut bermesin jet pertama yang memiliki kemampuan tinggal landas dan mendarat secara vertical, yang justru dibeli oleh NASA.
Tahun 1969, Habibie menjabat sebagai kepala divisi  metode dan teknologi pada pesawat komersial dan angkut militer. Dan empat tahun kemudian  menjabar sebagai vice president dan direktur pengembangan dan penerapan teknologi.
Direktur utama pertamina, Ibnu Sutowo, ketika melakukan kunjungan kerja ke Jerman Barat , segera memanggil Habibie untuk menemuinya. Pertama kali bertemu bukan sapaan hangat yang dilontarkan Ibnu Sutowo, melainkan,  “Saudara Rudy, je moet je schamen als Indonesier!” artinya adalah, “harusnya kamu malu sebagai orang Indonesia!” lalu dilanjutkan dengan, “di Indonesia orang-orang sedang membangun, kamu kok malah di sini?” Hari itu Habibie tersengat lagi nasionalismenya.
Tak berselang lama pulanglah Habibie ke Indonesia bersama seluruh keluarga kecilnya. Di Indonesia , pak Soeharto menugaskan Habibie sebagai penasihat presiden RI memimpin Advanced Technology Division Pertamina. Setelah itu, Habibie kemudian diangkat pak Soeharto menjadi Menteri Riset dan Teknologi.
Tahun-tahun pertama menjalankan amanat presiden untuk memulai industri pesawat terbang dimulai dengan menganalisis kemungkinan-kemungkinan mengukuhkan industri ini. Setelah turun keputusan peresmian pendirian, segeralah ia berangkat ke luar negeri untuk mengajak industri-industri pesawat terbang lainnya bekerja sama. Namun, setiap industri yang ia temui tidak hanya menolaknya, namun juga menertawakannya. Mereka buikan meragukan kapabilitas Habibie, tetapi kesiapan Indonesia untuk membuat teknologi secanggih itu.
Namun tekad Habibie sudah bulat. Keuletan untuk mendapatkan rekan kerja sama akhirnya menemukan jalannya. CASA Spanyol dan MBB Jerman mau bekerja sama.
Hingga datanglah hari itu, di mana Indonesia yang miskin visi teknologi membuktikan kegagahanya dalam bidang teknologi tinggi. Uji coba penerbangan N-250/Gatotkoco sukses digelar. N-250/Gatotkoco menjadi satu-satunya pesawat turboprop saat itu yang mempergunakan teknologi fly-by-wire. Sertifikasi FAA tengah dalam proses. Indonesia bersorak riang sekaligus haru. Dunia tercengang. Indonesia bersiap terbang. Kepak sayap garuda mulai bersiap menerbangkan negeri ini ke tempat yang lebih tinggi dan bermartabat.
Akan tetapi, keriangan itu tak bertahan lama. Reformasi terjadi. Kepemimpinan presiden Soeharto dengan orde baru-nya tumbang. IPTN dan industri srategis lainnya ditutup.
Selama 20 tahun Habibie menjabat sebagai Menteri negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi wakil Presiden RI, dan disumpah oleh ketua Mahkamah Agung menjadi presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Terpenting, kepada setiap generasi muda Indonesia, ambillah inspirasi dari sepak terjang Habibie sejak mudanya hingga kemampuannya berkarya untuk Indonesia. Yang perlu kita tanamkan kuat hanyalah tak boleh lelah untuk menggapai impian dan tak boleh kalah dengan rintangan. Dengan begitu, Indonesia sebagai bangsa yang besar akan bisa kita wujudkan bersama-sama.
diambil dari buku Habibie TAK BOLEH LELAH DAN KALAH! (Fachmi Casofa) dan http://kangeryu.blogspot.co.id/2014/01/biografi-singkat-bj-habibie.html 

Habibie memiliki banyak kelebihan, diantaranya: Habibie mampu mamahami gelora yang menggedor-gedor dalam dirinya, mengetahui ke mana ia menyalurkan hasrat intelektualnya, dan menentukan cita-citanya. Ia teguh, pantang menyerah, dan berani. Kelebihan-kelebihan dirinya itulah yang membuahkan banyak prestasi,
1)      Ia lulus dengan nilai magna cum laude.
2)   Menciptakan teori di bidang Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Teori-teori tersebut di antaranya Habibie Theorem, Habibie Methode, dan Habibie Factor. 
3)   Menempati banyak jabatan tinggi. 
4)      Mendapat banyak penghargaan dari berbagai universitas terkemuka di dunia.
5)      Walaupun menjabat menjadi presiden selama 512 hari, beliau mampu merubah Indonesia menjadi negara demokrasi dan sukses melaksanakan pemilu pertama pada tahun 1999.

Pak Habibie adalah seorang yang sangat hebat. Beliau adalah seorang jenius. Dan tentu banyak pemuda/I Indonesia termasuk saya yang mengidolakan beliau dan berharap bisa meniru kesuksesan beliau.
Untuk itu ada upaya-upaya yang bisa saya lakukan sebagai seorang mahasiswi, diantaranya, belajar dengan tekun, tanpa mengeluh, tanpa lelah hingga mencapai nilai memuaskan, khususnya untuk UTS yang akan datang, UAS, dan hingga lulus dengan berharap mendapat nilai magna cum laude. Memanfaatkan segala kesempatan dan tidak menyerah pada segala macam situasi yang dihadapi.
Namun tentu saja banyak hambatan yang dihadapi, rasa lelah, penat, malas, kadang menjadi rintangan dari diri yang sangat besar.
Seperti pak Habibie yang memiliki nilai sempurna di bidang eksakta, walaupun saya tidak selalu mendapat nilai sempurna, namun saya sangat menyukai pelajaran eksakta dan sangat percaya diri dengan pelajaran eksakta. Dan apa yang saya inginkan sejak dulu adalah bisa belajar teknik. Alhamdulillah saat ini saya berada di teknik elektro ITERA. Semoga saya mampu bertahan dan lulus dari teknik elektro ITERA dan bisa menjadi seorang insinyur.
Semoga anggkatan’16 bisa menjadi penerus bangsa yang berprestasi dan mampu membangun bangsa Indonesia.

Artikel ini dibuat untuk tugas matakuliah KPIP ITERA 2016.