Kita
sedang menatap seorang Habibie sebagai manusia. Manusia biasa seperti kita.
Lengkap dengan cerita sedih dan senangnya. Juga kisah gagal dan berhasilnya.
Mengawali
hidupnya dari bukan siapa-siapa. Namun karena ia tahu hendak menjadi apa, ia mengejarnya.
Hingga dapat. Lalu ia menjadi orang besar. Dan sebagaimana alur hidup orang
besar, selalu saja ada banyak hal yang bisa kita ambil inspirasi darinya.
Ada
pengejaran dan pembuktian cinta mulia. Ada semangat berkarya tanpa jeda. Ada
semangat yang kadang patah, tetapi tak jarang juga tinggi menjulang. Ada kisah
manis cinta sejati berbalut kesetiaan hingga ujung usia. Juga ada rampai
kenangan manis dan terkadang haru.
Di Pare-pare tepat
tanggal 30 Juni 1936, Habibie baru saja lahir dari rahim R.A Tuti Marini
Puspowardojo, yang disambut girang oleh ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie.
Semasa belianya, Habibie
memiliki banyak nama panggilan. Di keluarganya, ia dipanggil Rudy. Dikalangan
teman-temannya ia dipanggil Udding, singkatan dari Bacharuddin.
Selain menggemari
naik kuda, kegemaran mengagumkan lainnya dari Habibie adalah membaca buku.
Kebiasaan membaca itu tergolong unik dan bahkan bisa dikatakan sangat jarang
dipunyai oleh anak-anak seusianya dikampungnya. Bila sudah melihat buku, begitu
laparnya ia hingga dilahap semua ilmunya.
Sejak belianya, Habibie
sudah tahu gelora apa yang menggedor-gedor dalam dirinya, ke mana ia
menyalurkan hasrat intelektualnya dan hendak menjadi apa ia kelak.
Di sekolah, kala
guru tengah membincang cita-cita apa yang menjadi gelora para muridnya, dengan
begitu tega dan mantapnya Habibie melantangkan: insinyur!
Setelah tiadanya
sang ayah, di umur Habibie yang baru 14 tahun itu ibundanya kemudian
berinisiatif mengirim Habibie ke jakarta untuk menempuh pendidikan. Namun Habibie
tidak merasa nyaman tinggal di Jakarta sehingga ia pindah ke Bandung dan
tinggal dengan keluarga Syamsuddin, kepala kantor Tera untuk Indonesia di
Bandung.
Di bandung, tempat Habibie
tinggal, dekat dengan rumah Ainun yang berada di jalan Ranggamalela No.21.
letak SMP mereka pun berdekatan. Barulah semasa SMA, mereka satu sekolahan.
Uniknya, -teman-teman dan para guru kerap menjodoh-jodohkan mereka berdua.
Sama-sama pintar. Rumahnya berdekatan. Berada di keluarga yang mengutamakan
pendidikan. Jadi, anak-anak mereka nantinya juga pasti akan sangat pintar.
Begitu olok-olok mereka.
Semasa SMA itu
pulalah, prestasi Habibie tampak sekali kecemerlangannya. Nilai 10 kerap
didapatnya ketika mengerjakan pelajaran eksakta. Setelah dirampungkan, Habibie
melanjutkan kuliahnya ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang sekarang
bernama ITB. Hanya 6 bulan ia belajar di sana, ia mendapat izin belajar di
Jerman dari kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi.
Artinya Habibie harus memakai biaya sendiri untuk berangkat ke Jerman dan biaya
hidup di sana.
Walau harus melepas
seluruh tabungan, Tuti mantap dengan pilihannya meloloskan keinginan Habibie. Habibie
hanya bisa terharu. Mimpi sudah dibulatkan. Tekad sudah dicanangkan. Habibie
kian mantap menjemput cita-cita.
Pada umur 19 tahun Habibie
berangkat ke Jerman, disana ia belajar di Rheinisch Westfaelische Technische
Honchschule Aachen, Fakultaet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman, dengan
jurusan konstruksi pesawat terbang.
Bila Habibie tidak
belajar dengan rajin sehingga lulus tepat waktu, itu artinya sama saja dengan
menyiksa diri sendiri dengan keprihatinan keadaan yang lebih lama. Itulah
mengapa, belajar dengan tekun sekaligus bekerja dengan keras selalu ia upayakan
hingga hari baik itu tiba, penganugerahan gelar Diplom Ingenieur (S2) pada usia
23 tahun dengan nilai magna cum laude.
Setalah lulus, Habibie
langsung mendapatkan kerja di Jerman. Kesempatan liburan selama 3 bulan ia
gunakan untuk pulang ke Indonesia. Siapa sangka, kepulangannya ke Indonesia
justru mempertemukannya lagi dengan Hasri Ainun Besari, teman masa SMA-nya yang
pernah ditaksirnya sekaligus pernah ditolaknya dengan sebutan si hitam gula
jawa.
Tanggal 12 Mei 1962,
pernikahan pun digelar. Harian berita
Indonesia Jakarta dan koran lokal Bandung merekam momen bahagia yang
tergelar meriah di Hotel Preanger Bandung itu. Karena Habibie harus balik ke
Jerman untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan doktoralnya, diusunglah Ainun
bersamanya.
Setelah pindah ke
Hamburg, Habibie bekerja di MBB industri pesawat terbang yang terkenal di dunia
. sebelum bekerja di MBB Habibie juga menapaki karier sebagai Kepala Departemen
Riset dan Penerbangan Analisis Struktur di HFB GmbH. Tugasnya dalah mencari solusi atas
permasalahan kestabilan konstruksi
bagian belakang dari pesawat Fokker 28. Di
HFB pula, Habibie harus merancang pesawat baru. Namanya DO-31, pesawat
pengangkut bermesin jet pertama yang memiliki kemampuan tinggal landas dan
mendarat secara vertical, yang justru dibeli oleh NASA.
Tahun 1969, Habibie menjabat sebagai kepala divisi metode dan teknologi pada pesawat komersial
dan angkut militer. Dan empat tahun kemudian
menjabar sebagai vice president dan direktur pengembangan dan
penerapan teknologi.
Direktur utama pertamina, Ibnu Sutowo, ketika melakukan kunjungan kerja
ke Jerman Barat , segera memanggil Habibie untuk menemuinya. Pertama kali
bertemu bukan sapaan hangat yang dilontarkan Ibnu Sutowo, melainkan, “Saudara Rudy, je moet je schamen als
Indonesier!” artinya adalah, “harusnya kamu malu sebagai orang Indonesia!”
lalu dilanjutkan dengan, “di Indonesia orang-orang sedang membangun, kamu kok
malah di sini?” Hari itu Habibie tersengat lagi nasionalismenya.
Tak berselang lama pulanglah Habibie ke Indonesia bersama seluruh
keluarga kecilnya. Di Indonesia , pak Soeharto menugaskan Habibie sebagai
penasihat presiden RI memimpin Advanced Technology Division Pertamina. Setelah itu,
Habibie kemudian diangkat pak Soeharto menjadi Menteri Riset dan Teknologi.
Tahun-tahun pertama menjalankan amanat presiden untuk memulai industri pesawat
terbang dimulai dengan menganalisis kemungkinan-kemungkinan mengukuhkan industri
ini. Setelah turun keputusan peresmian pendirian, segeralah ia berangkat ke
luar negeri untuk mengajak industri-industri pesawat terbang lainnya bekerja
sama. Namun, setiap industri yang ia temui tidak hanya menolaknya, namun juga
menertawakannya. Mereka buikan meragukan kapabilitas Habibie, tetapi kesiapan
Indonesia untuk membuat teknologi secanggih itu.
Namun tekad Habibie sudah bulat. Keuletan untuk mendapatkan rekan kerja
sama akhirnya menemukan jalannya. CASA Spanyol dan MBB Jerman mau bekerja sama.
Hingga datanglah
hari itu, di mana Indonesia yang miskin visi teknologi membuktikan kegagahanya
dalam bidang teknologi tinggi. Uji coba penerbangan N-250/Gatotkoco sukses
digelar. N-250/Gatotkoco menjadi satu-satunya pesawat turboprop saat itu
yang mempergunakan teknologi fly-by-wire. Sertifikasi FAA tengah dalam
proses. Indonesia bersorak riang sekaligus haru. Dunia tercengang. Indonesia bersiap
terbang. Kepak sayap garuda mulai bersiap menerbangkan negeri ini ke tempat
yang lebih tinggi dan bermartabat.
Akan tetapi,
keriangan itu tak bertahan lama. Reformasi terjadi. Kepemimpinan presiden
Soeharto dengan orde baru-nya tumbang. IPTN dan industri srategis lainnya
ditutup.
Selama 20 tahun Habibie menjabat sebagai Menteri negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi wakil Presiden RI, dan disumpah oleh ketua Mahkamah Agung menjadi presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Terpenting, kepada setiap generasi muda Indonesia, ambillah inspirasi dari sepak terjang Habibie sejak mudanya hingga kemampuannya berkarya untuk Indonesia. Yang perlu kita tanamkan kuat hanyalah tak boleh lelah untuk menggapai impian dan tak boleh kalah dengan rintangan. Dengan begitu, Indonesia sebagai bangsa yang besar akan bisa kita wujudkan bersama-sama.
Selama 20 tahun Habibie menjabat sebagai Menteri negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi wakil Presiden RI, dan disumpah oleh ketua Mahkamah Agung menjadi presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.
Terpenting, kepada setiap generasi muda Indonesia, ambillah inspirasi dari sepak terjang Habibie sejak mudanya hingga kemampuannya berkarya untuk Indonesia. Yang perlu kita tanamkan kuat hanyalah tak boleh lelah untuk menggapai impian dan tak boleh kalah dengan rintangan. Dengan begitu, Indonesia sebagai bangsa yang besar akan bisa kita wujudkan bersama-sama.
diambil dari buku Habibie TAK BOLEH LELAH DAN KALAH! (Fachmi Casofa) dan http://kangeryu.blogspot.co.id/2014/01/biografi-singkat-bj-habibie.html
Habibie
memiliki banyak kelebihan, diantaranya: Habibie mampu mamahami gelora yang
menggedor-gedor dalam dirinya, mengetahui ke mana ia menyalurkan hasrat
intelektualnya, dan menentukan cita-citanya. Ia teguh, pantang menyerah, dan
berani. Kelebihan-kelebihan dirinya itulah yang membuahkan banyak prestasi,
1)
Ia lulus dengan nilai magna cum laude.
2) Menciptakan teori di bidang Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Teori-teori tersebut di antaranya Habibie Theorem, Habibie Methode, dan Habibie Factor.
3) Menempati banyak jabatan tinggi.
4)
Mendapat
banyak penghargaan dari berbagai universitas terkemuka di dunia.
5)
Walaupun
menjabat menjadi presiden selama 512 hari, beliau
mampu merubah Indonesia menjadi negara demokrasi dan sukses melaksanakan pemilu
pertama pada tahun 1999.
Pak Habibie adalah seorang yang sangat hebat. Beliau
adalah seorang jenius. Dan tentu banyak pemuda/I Indonesia termasuk saya yang
mengidolakan beliau dan berharap bisa meniru kesuksesan beliau.
Untuk itu ada upaya-upaya yang bisa saya lakukan
sebagai seorang mahasiswi, diantaranya, belajar dengan tekun, tanpa mengeluh,
tanpa lelah hingga mencapai nilai memuaskan, khususnya untuk UTS yang akan datang,
UAS, dan hingga lulus dengan berharap mendapat nilai magna cum laude. Memanfaatkan segala
kesempatan dan tidak menyerah pada segala macam situasi yang dihadapi.
Namun tentu saja banyak hambatan yang dihadapi,
rasa lelah, penat, malas, kadang menjadi rintangan dari diri yang sangat besar.
Seperti pak Habibie yang memiliki nilai sempurna di
bidang eksakta, walaupun saya tidak selalu mendapat nilai sempurna, namun saya
sangat menyukai pelajaran eksakta dan sangat percaya diri dengan pelajaran
eksakta. Dan apa yang saya inginkan sejak dulu adalah bisa belajar teknik. Alhamdulillah
saat ini saya berada di teknik elektro ITERA. Semoga saya mampu bertahan dan
lulus dari teknik elektro ITERA dan bisa menjadi seorang insinyur.
Semoga anggkatan’16 bisa menjadi penerus bangsa
yang berprestasi dan mampu membangun bangsa Indonesia.
Artikel ini dibuat untuk tugas matakuliah KPIP
ITERA 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar